SUBANG | BEWARA.CO.ID | SMA Negeri 1 Kalijati menyelenggarakan Pesantren Ekologi Ramadan 1447 Hijriah Tahun Pelajaran 2025–2026 yang berlangsung sejak tanggal 24 Februari – 13 Maret 2026, di ikuti oleh kelas X dan XI.
Sementara itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan pendidikan karakter berbasis spiritualitas dan kepedulian lingkungan selama bulan suci Ramadan.
Kepala Sekolah SMAN 1 Kalijati, Irra Martiana, S.Pd., M.Pd., didampingi Waka Humas Haryati S.Pd, menyatakan bahwa, program ini dirancang untuk mengintegrasikan nilai ibadah dengan aksi nyata menjaga lingkungan.
“Pesantren Ekologi ini kami hadirkan agar siswa memahami bahwa merawat bumi adalah bagian dari ibadah dan wujud tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi,” ujar Irra saat ditemui bewara.co.id, Jumat pagi, (13/03/2026).
Hal ini Irra juga menambahkan bahwa kegiatan harian dimulai pukul 06.30 WIB dengan sholat sunah Dhuha dan dzikir pagi, dilanjutkan tadarus Al-Qur’an serta Poe Ibu sebagai pembiasaan karakter di bulan Ramadan. Setelah itu, siswa mengikuti materi inti Pesantren Ekologi sebelum memasuki kegiatan belajar mengajar reguler.

“Pembiasaan ibadah di pagi hari menjadi pondasi utama. Kami ingin membentuk karakter siswa yang kuat secara spiritual sebelum mereka menerima materi akademik,” ungkapnya.
Bahkan lebih lanjut, Irra juga menuturkan bahwa, kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan nilai-nilai luhur Ramadan dan penguatan pendidikan karakter, serta eningkatkan amaliah di bulan Ramadan yang dilaksanakan secara terencana sesuai situasi, kondisi, dan potensi masing-masing satuan pendidikan.
Tak hanya itu saja, Irra pun menjelaskan berbagai materi seperti tadabbur alam, melakukan kajian, perenungan, penghayatan dan memikirkan secara mendalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits, Ayat Kauniyah serta kajian ulama dan keilmuan guna memahami hikmat, sebab akibat, serta implementasinya dalam kehidupan sehari-hari.
“Kegiatan yang kami lakukan ini untuk meningkatkan amaliah berbasis ekologi dan sosial sebagai implementasi 7 Pembiasaan Anak Indonesia Hebat,” jelasnya.
Ke
Sementara itu, kegiatan ini pun mengusung tema “Internalisasi Nilai Gapura Pancawaluya Guna mewujudkan Manusia Waluya Rahmatan Lil Alamin”

Program ini juga merupakan implementasi Pancawaluya Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat yang berbasis kearifan lokal budaya Sunda.
Adapun Lima pilar Pancawaluya tersebut diantaranya, cager, bageur, bener, pinter, dan singer diharapkan menjadi fondasi pembentukan manusia waluya atau manusia paripurna.
“Kami ingin melahirkan generasi yang sehat lahir batin, jujur, cerdas, dan terampil. Pesantren Ekologi menjadi salah satu jalan untuk mewujudkan itu,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua pelaksana pesantren EKOLOGI Hj. Cucu Carmilah, S.Ag., menjelaskan bahwa kegiatan ini, menilai kegiatan Pesantren Ekologi Ramadan di SMAN 1 Kalijati sebagai langkah inovatif dalam penguatan pendidikan agama yang kontekstual.
Bahkan Hj. Cucu juga menyebut integrasi antara spiritualitas dan kepedulian lingkungan sebagai pendekatan yang relevan dengan tantangan zaman.

“Kegiatan ini sangat baik karena mengajarkan siswa bahwa agama tidak hanya berbicara tentang ritual, tetapi juga tanggung jawab sosial dan ekologis,” ungkapnya.
Hal ini, ia menjelaskan bahwa pendekatan ekoteologi yang diterapkan sekolah sejalan dengan program Kementerian Agama dalam memperkuat moderasi beragama dan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Menurutnya, sekolah memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran tersebut sejak dini.
“Ekoteologi mengajarkan bahwa menjaga alam adalah bagian dari ketaatan kepada Allah. Ketika siswa memahami ini, mereka akan tumbuh dengan kesadaran spiritual dan kepedulian sosial yang seimbang,” jelasnya.

Selanjutnya, Hj cucu berharap Pesantren Ekologi Ramadan dapat menjadi praktik baik yang menginspirasi sekolah lain dalam mengembangkan pendidikan agama berbasis aksi nyata. Bahkan ia pun optimistis program Ekologi ini mampu melahirkan generasi yang berkarakter dan peduli terhadap kelestarian lingkungan.
“Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut dan menjadi budaya sekolah. Spiritualitas yang kuat harus berjalan seiring dengan kepedulian terhadap bumi,” pungkasnya. (wan/red).





