Di suatu kampung terpencil hiduplah seorang nenek dan cucunya.
Nenek tersebut bernama Rumi dan cucunya bernama Yuna. Mereka hidup berdua dari sejak Yuna kecil, karena ayah dan ibunya sudah lama tiada.
Mereka ini bersuku Sunda karena bawaan neneknya.
Suatu waktu Yuna membantu nenek mencari lalapan dan kayu untuk dijadikan bahan bakar dan lalapan untuk lauk makan.
“Ma, iraha nya Yuna tiasa ningali gedong-gedong jangkung sapertos dina film?” tanya Yuna dengan nada lirih.
“Jang naon atuh, ningali gedong-gedong jangkung nѐng?” jawab nenek sedikit bingung.
Setelah mendengar jawaban neneknya, Yuna hanya terdiam dan membayangkan betapa senangnya dia jika bisa melihat gedung-gedung yang tinggi.
Setelah mengumpulkan kayu bakar dan lalapan, nenek dan Yuna kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Yuna membantu nenek untuk memasak lalapan tersebut.
Keesokan harinya Yuna berkeliling kampung memakai sepeda yang sudah mulai rapuh. Saat mengayuh sepeda di jalan, Yuna bertemu dengan seorang anak kota yang kelihatannya memerlukan bantuan.
“Punten teh ada yang bisa dibantu?” Yuna bertanya dengan lembut.
“Eh, iya nih, aku butuh bantuan,” anak kota menjawab dengan muka yang kebingungan.
“Minta bantuan apa tѐh?” dengan ciri khas Yuna Bahasa campuran Indo-Sundanya.
“Ini, aku kayanya kesasar. Aku awalnya mau ke rumah nenek di kampung sini, tapi malah salah jalan kayanya,” jelasnya
Semakin bingung karena merasa jalan yang dilewati berbeda.
“Oh, hayu atu saya antar,” Yuna menawarkan bantuan.
“Oh, iya ayo. Manggil nya jangan teh, soalnya umur kita kayanya sama,” ucap anak kota sambil tersenyum karena merasa mendapat teman baru yang unik.
“Oh, oke atuh siap,” jawab Yuna sambil tersenyum malu.
Yuna dan anak kota pun berjalan sambil mencari rumah neneknya. Mereka bahkan lupa untuk saling bertanya dan berkenalan, karena terlalu sibuk mencari rumah nenk anak kota itu. Melisa mengerti Bahasa Yuna, meskipun dia tidak bisa mengucapkannya.
“Btw, nama kamu siapa ya dari tadi aku ngobrol sama kamu, gatau tuh nama kamu siapa?” tanya anak kota dengan sedikit tersenyum.
“Èh, enya nya, nama saya tѐh Yuna, ai kamu siapa?” Yuna bertanya kembali.
“Nama aku Melisa, salam kenal ya,” dengan senyum lebar karena senang telah berkenalan dengan teman baru yang membantunya.
“Oh, Mѐlisa, namina meni bagus,” ucap Yuna dengan senyum lebar.
Setelah berjalan cukup lama dan berbincang kesana-kesini, mereka pun menemukan rumah nenek Melisa. Di rumah neneknya itu, Melisa melihat nenek yang sedang membuat makanan Sunda, yaitu ѐnyѐ. Melisa yang baru pertama kali melihat itu merasa heran dan bertanya kepada Yuna .
“Yuna, itu nenek aku lagi buat apa ya, kamu tau ga?” tanya Melisa sambil mengerutkan kedua alisnya pertanda sangat bingung dan sangat ingin tahu.
“Oh, itu ѐnyѐ Mel, ѐnyѐ adalah makanan khas Sunda,” Yuna menjelaskan kepada Melisa dengan sederhana.
“Waw, hebat ya nenek, bisa buat makanan khas Sunda itu,” tanggapan Melisa merasa sedikit tahu tentang nama makanan dan makanan khas Sunda itu.
“Itu mah atuh gampang Mѐlisa,” jawab Yuna sambil sedikit tertawa karena baginya sangat biasa. Mungkin karena dia sering membuat nenek dan melihat makanan itu di kampung.
“Hah, iya gitu?” tanya Melisa dengan keheranan.
“Iya, atuh Mѐlisa, da orang Sunda mah pasti barisaeun bikin yang gitu mah” jawab Yuna dengan tersenyum.
“Ihhh, aku tertarik banget sama suku Sunda, orang Sunda kayanya segala bisa. Mau bikin apa pun juga kayanya langsung bisa,” jawab Melisa dengan semangat dan bangga.
“Ngga gitu ogѐ Mѐlisa, tergantung keahlian orangnya!” Yuna menegaskan.
“Oh, gitu ya,” Melisa sedikit tertawa.
Mereka pun menghampiri nenek Melisa dan salam kepada neneknya..
Setelah itu, mereka berbincang satu sama lain. Tetapi, tak terasa waktu sudah menjelang Magrib, Yuna pun berpamitan pulang kepada nenek dan Melisa. Dia bergegas pulang karena teringat nenknya di rumah, mungkin akan khawatir karena dia belum pulang hingga sore.
Di perjalanan pulang Yuna menggoes sepedanya lebih cepat, karena awan sudah mulai menggelap. Ketika sampai di rumah, Yuna menceritakan semua kejadian tadi pada neneknya.
“Ma, terang teu, tadi Yuna panggih jeung budak kota, budak kotana tѐh namina Mѐlisa. Mѐlisa tѐh meui jiga nu atoh ku kabiasaan jeung emameun urang Sunda” Yuna menjelaskan dengan semangat dan bangga kepada neneknya.
“Enya, kitu nѐng? ajakan atuh ameng, urang pasihan terang naon wae anu aya khas di daerah urang tѐh,” nenek merasa bangga dan bersemangat karena ada anak muda yang menyukai kebiasaan dan kekhasan di daerahnya. Nenek merasa jarang sekali anak muda sekarang yang tertarik dan ingin tau banyak hal.
“Muhun, Ma, ѐnjing urng ajakan,” jawab Yuna dengan semangat.
Keesokan harinya Yuna mengajak Melisa ke rumahnya.
“Yuna, ayo beritahu aku apa saja yang ada di Sunda ini?” Melisa merasa bersemangat dan tidak sabar ingin mengetahi banyak hal tentang Suku Sunda.
Sementara itu, Yuna juga menceritakan semua tentang Suku Sunda. Mulai dari makanan khasnya seperti peuyeum, karedok, lotek, dan lain-lain. Yuna juga menjelaskan sedikit budaya Sunda yang dia tahu, seperti Ruatan Bumi, Tari Jaipong, Botram, dan sebagainya. Melisa merasa senang karena ternyata banyak sekali kekhasan daerah Sunda.
“Wah, Yuna, seru banget ih kayanya, kapan-kapan boleh ajarin aku ga, tentang Suku Sunda aku tertarik banget. Aku bosen tau di Jakarta kegiatan nya itu-itu mulu, mending disini seru!” dengan raut muka yang senang dan bersemangat.
“Wah, Melisa, kayanya kamu tertarik banget ya sama suku Sunda, emang kamu dari mana aslinya?” tanya Yuna.
“Aku, dari Betawi, aku menggunakan Bahasa Indonesia juga, karena Bahasa Nasional kan,” jawab Melisa.
“Iya, Melisa bener banget bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu, tapi kamu nyadar ga sih karena perbedaan kita ini, kita jadi lebih dekat, karena kamu tertarik dengan Sunda. Jadi, kita sama-sama mempelajari tentang salah satu Suku yang ada di Indonesia ini,” ucap Yuna.
“Iya, bener banget, karena perbedaan ini aku jadi lebih dekat sama kamu, karena aku tertarik dengan kebiasaan disini. Kamu tertarik sama Betawi ga?” tanya Melisa
“Tertarik banget, apalagi ondel-ondel dari Betawi, bagus pisan Mѐlisa” jawab Yuna penuh semangat.
“Iya, aku juga seneng banget liat ondel-ondel soalnya unik. Gimana kalo nanti kamu ikut aku sebentar ke Jakarta, nenek kamu sama nenek aku kan saling kenal,” ajak Melisa dengan berharap Yuna ikut.
“Hah, serius? Ayo atuh aku pѐngѐn liat gedung-gedung tinggi yang ada di Jakarta,” Yuna merasa senang, karena dia memang sudah dari lama ingin melihat gedung-gedung tinggi di Jakarta.
“Iya, Yuna ayo, Aku serius nanti kita jadwalkan ya,” jawab Melisa. (red).
Nama saya Intan Permata Sari. Kelas VIII C di SMPN 2 Kalijati, tahun ajaran 2024/2025. Saya lahir di Subang, 7 Juli 2011. Saya tinggal di Kp. Kalijati Barat Kec. Kalijati Kab. Subang. Hobi saya bermain badminton. Ekstrakulikuler di sekolah yang saya ikuti, yaitu Pramuka, Sainspreneur, dan Organisasi Intra Sekolah (OSIS). Selain itu, saya juga tergabung dalam Komunitas Penggerak Literasi di sekolah.





