Temanku Dari Berbagai Daerah

Ket Foto : Reika Mega Herdiyanti. Kelas IX A SMPN 2 Kalijati tahun ajaran 2024/2025

16 Juli 2010, tepatnya 14 tahun yang lalu, Nita seorang gadis berambut panjang nan jelita itu dilahirkan. Tak terasa pada hari ulang tahunnya, ia memasuki masa putih birunya dan memulai kehidupan remaja.

“Aduh, Ibu! Kerudung aku udah rapi, belum?” Nita berbolak-balik melihat cermin dan merapikan kerudung putihnya.

Bacaan Lainnya

Pagi ini adalah hari Senin. Nita pertama kali mengikuti kegiatan yang bernama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau lebih dikenal dengan MPLS.

Pagi-pagi Nita sudah kerepotan dan membuat keributan dengan persiapan MPLS-nya. Berulang kali dia memeriksa tasnya, khawatir ada yang ketinggalan.

“Udah rapi, kok, Sayang. Udah, kamu cepetan berangkat aja. Nanti terlambat, loh.” Ibu Nita menyarani.

“Ini juga nametag kamu jangan sampe ketinggalan,” tambahnya, menyodorkan papan nama milik Nita yang terbuat dari kardus dan tali.

“Oh, iya. Makasih, Bu.” Nita memakai topi SD-nya sebelum mengambil benda tersebut, ayah Nita yang akan mengantarkannya di luar sudah mengklakson motornya, mendesaknya untuk segera berangkat.

“Nita berangkat dulu, Bu! Assalamu’alaikum,” pamit Nita sambil mencium tangan ibunya, berjalan ke luar untuk naik motor bersama ayahnya.

“Waalaikumsalam. Hati-hati, Nak.”

***

Sesampainya di pintu gerbang sekolah, Nita turun dari motor. Ayahnya memberikan uang saku untuk jajan di sekolah.

“Aku masuk dulu, Yah.” Nita mencium tangan ayahnya sebagai bentuk sopan santun.

“Ya, selamat menjalani hari pertama MPLS, Nak,” balas ayahnya, setelahnya Nita masuk ke dalam sekolah.

Ini pertama kalinya Nita masuk ke SMP-nya, tempat yang lebih luas dari SD membuatnya takjub. Nita melihat sekelilingnya, sudah banyak siswa yang datang, namun masih belum ada panggilan untuk berkumpul karena Nita juga datang lebih awal.

Nita melihat-lihat siswa yang berseragam putih merah dan memakai papan nama sudah dipastikan peserta MPLS. Sementara yang memakai seragam putih biru adalah kakak kelasnya.

Nita berpikir sejenak, haruskah dia mencari teman? Kebetulan dia belum memiliki teman baru di SMP saat ini. Nita memantapkan diri, matanya menangkap seorang gadis yang sedang duduk sendirian di kejauhan.

“Aku coba deketin dia, deh,” pikirnya lalu berjalan mendekati si gadis.

Nita menjumpai gadis itu dan menyapanya. “Halo, aku boleh ikut duduk di sini, gak?” Si gadis yang sedang sibuk melamun dan melirik Nita dan tersenyum ramah. “Oh, ya. Silakan.”

Nita mengucapkan terima kasih dan duduk di sampingnya, memperhatikan penampilan gadis tersebut. Dia memiliki kulit yang cukup putih, rambut yang hanya sebatas bahu, mata yang coklat dan tinggi yang sedang, membuat Nita kagum dengannya karena kecantikannya tersebut.

“Boleh kenalan, gak? Nama kamu siapa?” Nita memulai percakapan.

“Boleh. Namaku Shania,” balas Shania, teman barunya.
Oh, ya, ngomong-ngomong kamu kelas mana?”

“Aku kelas 7B,” jawab Nita.

“Loh, kita di kelas yang sama! Aku juga di 7B,” seru Shania, yang membuat Nita mengangkat alisnya terkejut.

Tidak disangka bahwa mereka berdua ternyata menduduki kelas yang sama, hal ini dapat membuat mereka akrab dengan mudah.

“Eh, lihat. Udah disuruh kumpul. Kita nanti bareng, ya,” Shania berkata, dan dibalas dengan anggukan Nita. Keduanya berjalan bersama untuk masuk ke lapangan upacara, di mana para peserta MPLS disuruh kumpul.

Para peserta MPLS ditugaskan berbaris sesuai dengan kelasnya masing-masing. Nita dan Shania berbaris bersama dengan teman-teman mereka yang berjumlah 30 orang itu, ternyata tidak hanya warga lokal yang memasuki sekolah tersebut ada juga yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia.

Nita dan Shania mengikuti MPLS itu dengan baik, berkenalan dengan teman baru dan kakak-kakak OSIS yang membantu kegiatan, memainkan games yang menyenangkan. Nita dan Shania juga dengan berani maju ke depan untuk memperkenalkan diri dan berani berbicara di depan.

Pada saat MPLS juga ada pengenalan ekstrakurikuler di sekolah, di mana kakak-kakak kelas yang ikut kegiatan tersebut akan menampilkan pertunjukan sesuai dengan ekstrakurikuler masing-masing agar para adik kelas tertarik untuk bergabung.

Nita dan Shania menonton pertunjukan ekstrakurikuler tari. Nita merasa tertarik untuk ikut ekstrakurikuler tersebut.

Di dalam masa pengenalan tersebut ada beberapa kegiatan yang sekolah mereka lakukan, apalagi di hari penutupan MPLS di mana sekolah mereka menyelenggarakan berbagai perlombaan, seperti lomba balap karung, futsal, voli, tari dan perlombaan seru lainnya.

Sebenarnya pada saat MPLS Nita dan Shania tidak terlalu aktif di kelas mereka, bagaimanapun mereka perlu beradaptasi dengan lingkungan baru, terlebih lagi Shania yang ternyata berasal dari pulau Kalimantan.

Nita mengetahui bahwa Shania baru saja pindah dari Kalimantan dan Shania memerlukan waktu untuk beradaptasi pada lingkungan barunya, apalagi dia tidak bisa berbahasa Sunda. Setelah kegiatan MPLS berakhir, Nita resmi menjadi siswa SMP dan mengikuti kegiatan berlajar mengajar pada umumnya.

Pada saat itulah Nita dapat mengenali satu persatu teman sekelasnya, meskipun Nita masih tidak mampu untuk mengingat nama dan muka teman-temannya itu.

Tak hanya Shania teman satu kelasnya yang berasal dari pulau yang berbeda, Nita juga ternyata mempunyai teman sekelas yang berasal dari Papua yaitu Darel.

Darel mempunyai kulit yang sangat eksotis dan juga rambut yang sedikit ikal dan mengembang. Darel memiliki senyuman yang manis, dibalik semua itu biasanya anak-anak seumuran mereka sering mengejek orang yang mempunyai perawakan seperti Darel, tetapi Nita sangat salut begitu melihat lingkungan sekolah dan teman-temannya yang menerima Darel dan sangat menghargainya.

Seperti anak sekolah pada umumnya, hari-hari mereka habiskan untuk belajar dan sesekali mereka bertiga bermain. Kebetulan Darel, Shania, dan Nita tinggal di satu komplek perumahan yang sama, jadi biasanya mereka bermain bersama.

Ada suatu hari di mana mereka mempunyai tugas kelompok untuk praktek tari baik tradisional maupun tari kreasi, mereka memilih tari kreasi karena mereka berencana untuk menggabungkan tari tradisional dari asal daerah mereka menjadi tari kreasi.

Ketika hari penilaian tiba mereka menampilkan tarian yang membuat teman-teman mereka terpukau karena mereka benar-benar mempersiapkan dengan baik apapun yang menyangkut tentang nilai.

***

Tiga tahun kemudian berlalu. Tidak terasa sekarang ketiga sahabat itu sudah menginjak kelas 9 dan itu tandanya mereka sebentar lagi akan meninggalkan masa putih biru mereka dan akan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Tiga sejoli itu sedang berada di kelas, duduk dan berbincang bersama pada saat jam istirahat.

“Nita, Darel, nanti kalian kalo udah lulus mau lanjut sekolah di mana?” tanya Shania kepada dua sahabatnya.

“Kalo aku, sih… Kayaknya bakalan ngambil SMK Kesenian aja, deh. Soalnya aku mau meningkatkan bakat dan minatku di kesenian,” balas Nita kepada Shania, membuat Shania mengangguk mengerti.

“Oh … gitu. Kalo kamu, Rel, mau ke mana?” tanya Shania.
Darel berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan Shania sebelum berbicara.

“Hm… Kayaknya aku juga bakalan ngambil SMK Kesenian deh.”
“Kalo kamu mau ke mana, Shan?” Kini giliran dua sahabatnya yang bertanya.

Shania berpikir keras, sedikit mengerutkan alisnya. “Aku, sih, belum tau, ya. Entah mau ngambil SMK Kesehatan atau SMK Kesenian, masih bingung juga.”

Nita dan Darel saling berpandangan sebelum Nita berbicara. “Oalah… Menurut aku, ya, Shan. Kamu ambil aja sekolah yang kamu minati, apalagi kamu kan pintar. Kalo semisal kamu mau masuk SMAN 1 aja kamu bisa masuk, loh.”

“Iya, tuh. Benar apa kata Nita, jangan cuma karena kita berdua mau masuk SMK Kesenian, kamu juga jadi ikut ke sana. Padahal bukan minatnya kamu,” timpa Darel membenarkan ucapan Nita.

Shania mencerna perkataan kedua sahabatnya dengan baik untuk diingat. “Nanti, deh. Aku pikir-pikir lagi.”
Nita mengangguk dan tersenyum. “Yang terpenting ikutin kata hati kamu aja.”

Hari kelulusan pun tiba, bagi mereka waktu itu sangat cepat sekali, mengingat rasanya baru saja kemarin mereka menginjakan kaki di masa putih biru dan sekarang mereka harus melangkah satu langkah lebih tinggi untuk melanjutkan perjalanan mereka selama pendidikan.

Setelah acara kelulusan dan PPDB yang panjang, ketiga sahabat itu diterima di sekolah impian mereka masing-masing.
Seperti pada awalnya yang sudah mereka rencanakan, ternyata Darel dan Nita melanjutkan ke sekolah yang sama yaitu SMK Kesenian, sedangkan Shania, dia akhirnya memilih untuk melanjutkan sekolahnya ke SMAN 1 yang ada di kotanya.

Tetapi meskipun mereka bertiga berbeda sekolah saat ini, mereka kerap kali bertemu untuk main ataupun hanya sekedar melepas rindu. (red).

Nama saya Reika Mega Herdiyanti. Kelas IX A SMPN 2 Kalijati tahun ajaran 2024/2025. Saya lahir di Subang, 16 juli 2010. Saya tinggal di Kp. Sukahayu Kec. Dawuan Kab. Subang. Hobi saya menulis dan jajan. Saya juga mengikuti ekstrakulikuler Pramuka dan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Saya juga tergabung dalam Komunitas Penggerak Literasi di sekolah saya. Saya mengikuti beberapa kegiatan menulis salah satunya yang diadakan oleh Clue Academy untuk membuat tulisan dengan tema “Surat Untuk Ayah” dan masuk sebagai 20 karya terbaik di Kabupaten Subang yang diikuti oleh sekolah baik tingkat SD, SMP/MTS, SMA/SMK/MA, maupun Universitas.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *