Ekonomi

Nilai Tukar Rupiah ke Dolar AS Melemah, Tembus Rp18.100

Nilai tukar rupiah melemah hingga menembus Rp18.100 per dolar AS pada Senin, 26 Oktober 2026. Simak pergerakan kurs dan penyebabnya.

Nilai Tukar Rupiah ke Dolar AS Melemah, Tembus Rp18.100

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Senin (26/10/2026). Mata uang Garuda menembus level Rp18.100 per dolar AS setelah mengalami tekanan sejak pembukaan pasar pagi.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat berada di posisi Rp18.123 per dolar AS pada perdagangan siang, melemah 0,24 persen. Pelemahan berlanjut hingga menyentuh Rp18.129 per dolar AS pada pukul 13.42 WIB.

Sementara itu, data RTI Business menunjukkan dolar AS menguat 0,25 persen terhadap rupiah ke level Rp18.112 pada pukul 13.32 WIB.

Pergerakan tersebut memperpanjang tekanan terhadap rupiah yang sebelumnya ditutup pada posisi Rp18.080 per dolar AS pada Jumat (23/10/2026).

Pada awal perdagangan Senin, rupiah sempat berada di kisaran Rp18.084 hingga Rp18.085 per dolar AS sebelum pelemahannya semakin dalam menjelang siang.

Penyebab rupiah melemah terhadap dolar AS

Tekanan terhadap nilai tukar rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global, terutama akibat perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak mentah dunia.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa eskalasi ketegangan di Timur Tengah kembali mendorong harga minyak dunia melampaui US$100 per barel.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membebani mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain faktor eksternal, arus keluar modal asing dari pasar saham domestik turut memberikan tekanan terhadap pergerakan rupiah.

Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp18.050 hingga Rp18.150 per dolar AS pada perdagangan Senin.

Dengan demikian, posisi rupiah yang telah menembus Rp18.100 masih berada dalam rentang pergerakan yang diperkirakan analis tersebut.

Dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang

Penguatan dolar AS tidak hanya terjadi terhadap rupiah. Mata uang Amerika Serikat tersebut juga mencatatkan kenaikan terhadap sejumlah mata uang utama dunia.

Berdasarkan data perdagangan siang, dolar AS menguat sekitar 0,14 persen terhadap euro, 0,06 persen terhadap yen Jepang, serta 0,06 persen terhadap dolar Kanada.

Sementara itu, pergerakan mata uang di kawasan Asia menunjukkan arah yang beragam sejak pembukaan perdagangan.

Peso Filipina, baht Thailand, dan rupee India termasuk mata uang yang mengalami pelemahan terhadap dolar AS pada perdagangan pagi.

Sebaliknya, sejumlah mata uang lainnya, termasuk ringgit Malaysia dan dolar Taiwan, sempat mencatatkan penguatan tipis.

Rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan

Pengamat mata uang dan komoditas sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berlangsung sepanjang pekan terakhir Oktober 2026.

Dalam risetnya pada Minggu (25/10/2026), Ibrahim menyoroti penguatan indeks dolar AS serta kenaikan harga minyak mentah sebagai faktor yang memengaruhi pergerakan mata uang domestik.

Ia memperkirakan indeks dolar AS bergerak pada kisaran 100,90 hingga 103,10 sepanjang pekan ini.

Ibrahim juga memperkirakan nilai tukar rupiah dapat melemah hingga mendekati Rp18.200 per dolar AS apabila tekanan dari kedua faktor tersebut berlanjut.

Meski demikian, angka tersebut merupakan proyeksi analis, bukan nilai tukar yang telah tercatat dalam perdagangan.

Pergerakan rupiah selanjutnya masih akan dipengaruhi perkembangan pasar keuangan global, harga minyak dunia, serta aliran modal asing di pasar domestik.

Hingga pukul 13.42 WIB pada Senin (26/10/2026), data Bloomberg menunjukkan nilai tukar rupiah berada di level Rp18.129 per dolar AS. Angka tersebut merupakan posisi perdagangan intraday, bukan kurs penutupan harian.