Jawa Barat

Tim Relawan Selamatkan Bayi Surili di Tengah Karhutla Gunung Ciremai

Relawan menyelamatkan bayi surili dari pohon terbakar saat karhutla Gunung Ciremai. Satwa tersebut berhasil kembali ke pelukan induknya.

Tim Relawan Selamatkan Bayi Surili di Tengah Karhutla Gunung Ciremai

Tim relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) berhasil menyelamatkan seekor bayi surili yang terjebak di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kawasan Gunung Ciremai, Jawa Barat. Bayi primata endemik Jawa tersebut ditemukan dalam kondisi lemas di atas pohon yang terbakar pada Kamis (22/10/2026) malam.

Penyelamatan dilakukan oleh Darsa alias Dodo (51), anggota MPA Padabeunghar yang tergabung dalam Paguyuban Silihwangi Majakuning, bersama sejumlah relawan lainnya saat berupaya memadamkan kebakaran di kawasan Puncak Dulang.

Peristiwa bermula ketika Dodo bersama sembilan rekannya menyusuri kawasan hutan pada ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut (mdpl). Mereka bergerak menuju lokasi kebakaran untuk mencegah api meluas ke kawasan hutan alam.

Setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam dari Bukit Seribu Bintang, rombongan tiba di lokasi pada Kamis malam. Para relawan kemudian melakukan pemadaman dan berupaya melokalisasi api yang telah membakar vegetasi di kawasan tersebut.

Di tengah proses pemadaman, Dodo mendengar suara tidak biasa dari arah pepohonan. Setelah mencari sumber suara menggunakan penerangan, ia menemukan seekor bayi surili berbulu putih yang masih berada di dahan pohon.

Sekitar pukul 23.00 WIB, Dodo bersama relawan lainnya berusaha mengevakuasi satwa tersebut. Kondisi pohon yang telah terbakar membuat proses penyelamatan harus dilakukan dengan hati-hati.

Bayi surili itu ditemukan dalam keadaan lemah. Dodo memperkirakan satwa tersebut telah cukup lama terpisah dari induknya dan terpapar asap kebakaran.

Bayi surili mendapat pertolongan darurat

Setelah berhasil dievakuasi, bayi surili dibawa menjauh dari kawasan yang terbakar menuju tempat perlindungan sementara.

Para relawan memberikan pertolongan darurat menggunakan perbekalan yang tersedia. Bayi surili tersebut diberi minum dan ditempatkan di lokasi yang lebih aman agar kondisinya membaik.

Dodo memperkirakan usia bayi surili itu masih sangat muda karena tali pusarnya belum terlepas. Kondisi tersebut membuat satwa itu masih bergantung pada induknya untuk bertahan hidup.

Keesokan paginya, Jumat (23/10/2026), kondisi bayi surili mulai membaik. Satwa tersebut kembali aktif mengeluarkan suara setelah sebelumnya ditemukan dalam keadaan lemas.

Melihat perkembangan itu, Dodo bersama relawan lainnya memutuskan mencari induk surili agar bayi tersebut dapat dikembalikan ke habitat alaminya.

Namun, pencarian tidak langsung membuahkan hasil. Medan yang terjal dan sisa kebakaran menjadi tantangan bagi para relawan saat menyusuri kawasan hutan.

Berhasil dipertemukan dengan induknya

Pencarian pertama dilakukan sekitar pukul 07.00 WIB dengan menyusuri kawasan hutan sejauh kurang lebih 500 meter. Namun, relawan belum menemukan kelompok surili yang dicari.

Dodo kemudian kembali membawa bayi tersebut ke tempat perlindungan sementara sebelum melanjutkan pencarian.

Sekitar pukul 10.00 WIB, relawan kembali menyusuri kawasan hutan yang belum terdampak kebakaran. Pencarian kali ini difokuskan ke zona inti Gunung Ciremai.

Setelah menempuh jarak sekitar 300 meter dari lokasi penemuan awal, relawan menemukan sekelompok surili yang berjumlah sekitar 15 ekor.

Bayi surili kemudian ditempatkan di lokasi yang aman, sementara para relawan menjaga jarak agar kelompok primata tersebut dapat mendekat.

Suara bayi surili yang terus terdengar akhirnya mendapat respons dari kelompoknya. Seekor surili dewasa yang diyakini sebagai induknya mendekat dan mengambil bayi tersebut.

Dodo memastikan bayi surili itu telah kembali bersama kelompoknya sebelum meninggalkan lokasi.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Toni Anwar, turut mengapresiasi upaya relawan yang berhasil menyelamatkan bayi surili dan mengembalikannya ke habitat alami.

Karhutla Gunung Ciremai mengancam habitat satwa

Kebakaran hutan di kawasan Gunung Ciremai tidak hanya merusak pepohonan dan vegetasi, tetapi juga mengancam kehidupan satwa liar yang menghuni kawasan konservasi tersebut.

Gunung Ciremai merupakan habitat sejumlah satwa, termasuk surili, lutung, kijang, dan macan tutul.

Surili merupakan salah satu primata endemik Pulau Jawa yang berstatus dilindungi. Satwa ini memiliki peran dalam ekosistem hutan, termasuk membantu penyebaran biji tumbuhan melalui aktivitas makannya.

Ketua Paguyuban Silihwangi Majakuning, Nandar Junar Arif, menegaskan bahwa kegiatan pemadaman karhutla juga bertujuan melindungi keberlangsungan kehidupan satwa di kawasan Gunung Ciremai.

“Kami hadir di sini tidak hanya untuk pemadaman karhutla dan bukan sekadar menyelamatkan tegakan pohon, tetapi juga menjaga kelestarian ekosistem flora dan fauna,” kata Nandar, Jumat (23/10/2026).

Menurutnya, perlindungan kawasan hutan perlu memperhatikan seluruh komponen ekosistem, termasuk satwa yang kehilangan tempat berlindung akibat kebakaran.

Sementara itu, Dodo berharap upaya pemadaman karhutla Gunung Ciremai dapat segera dituntaskan agar kerusakan habitat satwa tidak semakin meluas.

Relawan juga masih berupaya menangani sisa bara api pada kayu dan pepohonan yang tumbang untuk mencegah kebakaran kembali menyebar.

Penyelamatan bayi surili tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya perlindungan satwa liar di tengah penanganan karhutla Gunung Ciremai. Bayi primata yang sempat terpisah dari kelompoknya itu akhirnya dapat kembali bersama induknya di kawasan hutan yang belum terbakar.